Perkembangan Ilmu Keagamaan kurun Dinasti Bani Abbasiyah Zaman Abasiyyah dikenal sebagai periode keemasan ilmu pengetahuan dan Agama. Ilmu-ilmu agama berkembang dengan subur dan diiringi oleh kemunculan tokoh-tokoh agama yang kuat sampai sekarang ini. (ilmu Agama: ilmu Tafsir, ilmu Hadis, ilmu Kalam/Teologi dan ilmu Tasawuf) a. Ilmu Tafsir Ilmu Tafsir dalama abad ini berkembang pesat alasannya adalah ilmu ini sangat diperlukan terutama oleh orang-orang non Arab yang gres masuk Islam. Mereka butuh tentang makna dan penafsiran al-Qur'an. Hal ini yang menjadikan beberapa ajaran muncul dalam ilmu tafsir. Penafsiran Al Qur'an pun berkembang tidak hanya dengan penafsiran makna tetapi penafsiran “Bil al Ma’sur dan “Bi al Ro’yi” Dalam hal ini boleh dikatakan, bahwa pemerintahan Abasiyyah yang pertama menyusun Tafsir dan memisahkan antara Tafsir dengan Hadis. Sebelum itu para kaum Muslimin menafsirkan Qur'an melalui Hadis-Hadis Nabi, keterangan para sobat, tabi’in. Di antara...
Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M, Dinasti Abbasiyah berhasil melaksanakan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayahwilayah yang mereka kuasai. Era kepemimpinan Khalifah kedua, Abu Ja`far bin `Abdullah bin Muhammad Al-Mansur (137-158H/754-775M), menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika beliau mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. Yaitu; Pertama , menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah, Kedua, meninggalkan Al-Anbar dan membangun Baghdad sebagai ibukota gres, yang beberapa dikala lalu menjadi fokus kegiatan ekonomi, budaya dan keilmuan dunia Muslim dikala itu. Gerakan penerjemahan yang lalu menjadi salah satu ‟ikon‟ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansur sebagai Khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku- buku kuno warisan ...
Khalifah Abu Ja’far al-Mansur, khalifah kedua dari pemerintahan Bani Abbasiyah menetapkan delapan kebijakan pemerintahan Abbasiyah sebagai kontrol pemerintahan. Dan delapan kebijakan ini telah menjadi anutan bagi 9 khalifah Abbasiyah pada fase pertama dalam menjalankan pemerintahannya, meskipun mereka tidak melaksanakannya secara utuh delapan kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut ialah; 1. Memindahkan sentra kekuasaan Bani Abbasiyah dari Hasyimiyah ke Baghdad 2. Kota Bagdad sebagai sentra kekuasaan Abbasiyah di buka menjadi kota terbuka untuk semua peradaban dari banyak sekali bangsa masuk. Hal ini dilakuan oleh para khalifah melihat pengalaman pola pengembanga budaya dan ilmu abad Bani Umayyah yang bersifat arab oriented, kesannya yaitu budaya dan ilmu pengetahuan menjadi lambat berkembang. 3. Ilmu pengetahuan dipandang sabagai suatu yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah yaitu orang-orang yang sangat menyayangi ilmu dan membuka kesempatan ilmu pengetahuan seluas-luasn...
Berikut merupakan khalifah-khalifah yang memimpin Bani Abbasiyah: a. Abul Abbas As Saffah (750-754 M) Dia bernama Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, Khalifah pertama pemerintahan Abbasiyah. Ayahnya yakni orang yang melaksanakan gerakan untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah dan mengembangkan kemana-mana. Inilah yang menciptakan Abdullah banyak mengetahui ihwal gerakan ini dan diam-diam rahasianya. Dia diangkat oleh saudaranya yang bernama Ibrahim sebelum ia ditangkap oleh pemerintahan Umawiyah pada tahun 129 H / 746 M. Tertangkapnya Ibrahim menciptakan Abdullah harus berangkat ke Kufah bahu-membahu dengan pengikutnya secara rahasia. Pada era pemerintahannya, ketika pasukan Abbasiyah menguasai Khurasan dan Irak, dia keluar dari persembunyiannya dan dibaiat sebagai Khalifah pada tahun 132 H/ 749 M. Setelah itu dia mengalahkan Marwan bin Muhammad dan menghancurkan pemerintahan Bani Muawyah pada tahun yang sama. Abu Abbas Assyafah meninggal pada tahun 136 H ...
Sejarah Proses Berdirinya Bani Abbasiyah Awal kebangkitan Dinasti Bani Abbasiyah ditandai dengan adanya gerakan- gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) pada abad kekuasaan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah menemukan momentumnya ketika para tokoh di antaranya Muhammad bin Ali, salah seorang keluarga Abbas yang menyebabkan kota Khufah sebagai pusat kegiatan perlawanan. Gerakan Muhammad bin Ali menerima santunan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. Selain itu, juga pertolongan besar lengan berkuasa dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh Dinasti Bani Umayyah. Lahirnya Bani Abbasiyah tahun 750 M, ialah peran besar dari keturunan Hasyim yang bernama Abu Abbas. Nama Abbasiyah yang dipakai untuk nama bani ini yakni di ambil dari nama bapak pendiri Abbasiyah yakni Abas bin Abdul Mutalib p...
A. Tujuan Perang Salib Tujuan perang salib itu tersirat minimal ada 3 tujuan: 1. Umat Kristen ingin kembali menguasai kota Yerussalem yang saat itu dikuasai oleh bani Saljuq. Karena pada abad itu beredar hembusan bahwa, umat Katolik akan sulit memasuki kawasan Yerussalem, karena bani Saljuq telah mengumumkan peraturanperaturan untuk pendatang yang berkunjung kesana; 2. Adanya kesumat unsur dan agama yang terselubung yang sangat susah untuk diterka, alasannya adalah Yerussalem ialah kota suci tiga umat beragama ( Islam, Nasrani, Hindu); 3. Membalaskan dendam Timur Barat dan faktor ekonomi yang sangat potensial di Yerussalem. B. Akibat yang Ditimbulkan oleh Perang Salib Akibat yang ditimbulkan oleh perang salib yang berlangsung selama lebih dua kurun itu amat berbagai, diantaranya: 1. Pemeluk Islam yang menduduki Andalusia dan Sisilia terpaksa hengkang dari dua tempat ini, karena kemenangan ratu Isabella dan Raja Ferdinand membuat mereka memberikan tiga ajuan yang tidak men...
Faktor-faktor Kemunduran Peradaban Islam di Andalusia Dalam sejarah dan literatur yang ada mengisyaratkan bahwa, kedigdayaan Islam di Andalusia hanya mampu bertahan sekitar delapan kurun saja, kalau di hitung memang waktu yang cukup panjang dan terjadinya beberapa kali pergantian dinasti. Khalifah terakhir Daulah Umayyah di Andalusia adalah Hisyam III al-Mu’tadd. Runtuhnya dinasti inidisebabkan oleh alasannya sering terjadinya perseteruan, rivalitas politik, dan konflik internal dalam pemerintahan yang saling memperebutkan kekuasaan. Situasi tersebut diperparah dengan oleh kelemahan pemerintah pusat semenjak Ibnu Amir al-Mansur meninggal dunia pada tahun 399 H/1008 M. Selama 50 tahun, Andalusia tidak mempunyai satu kesatuan komando, terpecah dan tercabik menjadi 20-30 thaifah (golongan). Kurun waktu sejak tahun 400 H/1010 M sampai dengan Dinasti Murabithun merebut kekuasaan di Andalusia pada tahun 480 H/1090 M disebut sebagai muluk ath-thawaif (raja-raja golongan). Keruntuhan Da...
a. Kemajuan Pembangunan 1) Cordova Cordova yaitu ibu kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa Muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-taman dibangun untuk menghiasi ibu kota Spanyol Islam itu. Pohon-pohon dan bunga-bunga diimpor dari Timur. Di seputar ibu kota bangun istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap istana dan taman diberi nama tersendiri dan di puncaknya terpancang istana Damsyik. Di antara kebanggaan kota Cordova lainnya ialah masjid Cordova. Posisi Cordova diambil alih Granada di kala-kurun simpulan kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur bangunannya populer di seluruh Eropa. Istana al-Hambra yang indah dan megah yakni pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya. Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih mampu diperpanjang deng...
Kebudayaan Islam pada Masa Bani Umayyah di Andalusia Kebudayaan Islam periode Bani Umayyah mengalami perkembangan yang sangat mengesankan dan mengagumkan pada kurun pemerintahan Abdurrahman III an-Nashir (300-350 H/912-961 M). Di bawah khalifah ‘Abd al-Rahman III dan penerusnya, al-Hakam II dan al-Manshur, Andalusia benar-benar mencapai puncak kejayaannya dalam bidang keagamaan maupun kebudayaan. Kota Kordova berkembang menjadi pusat kebudayaan yang sebanding dengan Kairawan, Damaskus, atau Baghdad. Menurut satu laporan pada pengujung masa ke 4/ 10 kota Kordova saja mempunyai 1.600 masjid, 900 pemandian umum, 60.300 villa, 213.077 rumah, dan 80.455 toko.18 Kemegahan dan kemeriahan kota Kordova juga dimiliki oleh kota-kota lain di Andalusia. Ibn Hawqal yang mengunjungi Andalusia pada pertengahan kurun ke 4/10 melaporkan bahwa semua kota di wilayah tersebut besar dan ramai, memiliki kemudahan perkotaan yang sangat lengkap, jalan-jalan yang lapang dan bersih, pemandian, dan penginapa...
Perkembangan Islam Pada Masa Daulah Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) A. Periode Pertama (711 -755 M) Spanyol di bawah pemerintahan Wali yang diangkat Khalifah di Damaskus. Pada abad ini masih terdapat gangguan dari dalam, antara lain antar elit penguasa akhir perbedaan etnis dan golongan. Antara Khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara di Kairawan saling mengklaim paling berhak menguasai Spanyol, hingga terjadi pergantian Gubernur sebanyak 30 kali dalam waktu singkat. Perbedaan etnis antara suku Barbar dan Arab mengakibatkan konflik politik sehingga tidak ditemukan figure yang tangguh. B. Periode Kedua (755-912 M) Penguasa Spanyol masa ini: 1) Abdurrahman al-Dakhil, berhasil mendirikan masjid di Cordova dan sekolah-sekolah. 2) Hisyam I, berhasil menegakkan aturan Islam. 3) Hakam I, sebagai pembaharu bidang militer. 4) Abdurrahman al-Ausath, penguasa yang cinta ilmu. 5) Muhammad bin Abdurrahman 6) Munzir bin Muhammad 7) Abdullah bin Muhammad Pada periode ke-9, ...
Perkembangan Islam Pada Masa Daulah Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) Bani Umayyah di Andalusia adalah kekhalifahan Dinasti Umayyah atau kekhalifahan Islam yang pernah berkuasa di Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dalam rentang waktu antara tahun 756 dan 1031. Faktor Masuknya Islam di Andalusia a. Faktor Internal Faktor Internal yaitu kemauan berpengaruh para penguasa Islam untuk berbagi dan membebaskan menjadi wilayah Islam. Andalusia atau Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal termasuk selatan Perancis kini) mulai ditaklukan oleh umat Islam pada zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), di mana tentara Islam yang sebelumnya telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara ini terjadi pada era Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), di mana dia mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi Gubernur di kawasan itu. Dalam proses penaklukan Spanyol ini...
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman permulaan Islam termasuk masa Bani Umayyah I meliputi 3 bidang, yaitu bidang diniyah, bidang tarikh dan bidang filsafat . Pada era itu kaum Muslimin memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Tidak hanya penyebaran agama Islam, tetapi juga inovasi-penemuan ilmu lainnya. Pembesar Bani Umayyah memang tidak berupaya untuk berbagi peradaban lainnya, akan tetapi mereka secara khusus menyediakan dana tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah mengangkat hebat-ahli kisah dan mempekerjakan mereka dalam forum lembaga ilmu, berupa masjid-masjid dan forum lainnya yang disediakan oleh pemerintah. Para andal sejarah menyimpulkan bahwa perkembangan gerakan ilmu pengetahuan dan budaya pada era Bani Umaiyyah I memfokuskan pada tiga gerakan besar yakni; (1) Gerakan ilmu agama, alasannya adalah didorong oleh semangat agama yang sangat berpengaruh pada ketika itu; (2) Gerakan Filsafat, karena jago agama diakhir daulah Umayyah I terpaksa memak...
Adapun sistem pemerintahan yang diterapkan Bani Umayyah yaitu sistem monarkhi (Monarchiheridetis) , yang mana suksesi kepemimpinan dilakukan secara turun temurun. Semenjak Muawiyah berkuasa, raja-raja Umayyah yang berkuasa kelak menunjuk penggantinya dan para pemuka agama diwajibkan menyatakan sumpah setia di hadapan raja. Sistem pengangkatan penguasa seperti ini, bertentangan dengan prinsip dasar dan pedoman permusyawaratan. Sistem ini merupakan bentuk kedua dari sistem pemerintahan yang pernah dipraktekkan umat Islam sebelumnya, yakni musyawarah, dimana sepeninggal Nabi Muhammad Saw, khulafur rasyidin dipilih sebagai pemimpin berdasarkan musyawarah. Dalam menata administrasi pemerintahan, Bani Umayyah berbagi manajemen pemerintahan sebelunya ialah khulafaurrasyidin. Pada abad Umar bin Khatab, telah ada lima bentuk departemen, yakni Nidhamul Maaly, Nidhamul harbi, Nidhamul Idary, Nidhamul Siashi dan Nidhamul Qadhi . Bentuk departemen ini kemudian dikembangkan lagi oleh Muawiyah...